Selamat Datang di web Prodi Pengembangan Masyarakat Islam - Institut Agama Islam Negeri Kudus !

Prodi Pengembangan Masyarakat Islam

Kunjungi Desa Terkaya, Mahasiswa Prodi PMI IAIN Kudus Belajar Tentang Pengembangan Masyarakat Desa

Blog Single

Humas Prodi PMI – Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam Negeri Kudus dalam Kegiatan Kuliah Kerja lapangan (KKL) melaksanakan Kunjungan ke Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten Pada Senin (22/05/2023). Ketua Prodi PMI IAIN Kudus Rukhaini Fitri Rahmawiti M.Pd.I dalam sambutanya mengatakan bahwa acara Kegiatan Kuliah Kerja lapangan (KKL) ini dilaksanakan dalam 2 kegiatan, yaitu pertama dalam bentuk Workshop Vokasi tentang Pengembangan Diri yang telah terlaksana pada 09/05/2023 kemarin. Kedua, dalam bentuk Kunjungan ke Lembaga pemerintah dan Swasta, yang kali ini berkunjung ke Dispermandes Dukcapil Jawa Tengah dan Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten. Pada kegiatan kunjungan yang kedua ini diharapkan mahasiswa dapat belajar terkait dengan bagaimana upaya pemerintah Desa Ponggok dalam menyulap Desa yang dahulunya miskin menjadi Desa Milyader Seperti Sekarang ini. Karena dalam berbagai media sudah viral, bahwa Desa Ponggok ini menjadi Desa terkaya melalui berbagai program yang telah dicetuskan oleh kepala desanya bapak Jhunaedi Mulyono. Sehingga diharapkan mahasiswa PMI dapat belajar terkait dengan program-program yang telah dilaksanakan oleh Desa Ponggok dalam mengelola pemerintahan dan BUMDes. Selain itu, dengan kegiatan ini diharapkan dapat membangun kerjasama antara Prodi PMI IAIN Kudus dengan pemerintah Desa Ponggok  khususnya dalam penguatan kegiatan akademik baik dalam bentuk Riset, pengabdian maupun kegiatan Magang.  

Sebagai informasi, acara Kuliah Kerja lapangan (KKL) tersebut dibuka langsung oleh Kepala Desa Ponggok Jhunaedi Mulyono, SE dan dihadiri oleh Ketua Prodi PMI Rukhaini Fitri Rahmawiti M.Pd.I dan sekretaris Prdi PMI Hasan Bastomi, M.Pd.I, Dosen Prodi PMI IAIN Kudus serta Kepala Desa Ponggok Jhunaedi Mulyono, SE dan Hendrik Vidyanto SE Direktur BUMDes Tirta Mandiri Ponggok sebagai Narasumber. Sementara itu, Kepala Desa Ponggok Jhunaedi Mulyono, SE dalam sambutannya menyampaikan bahwa IAIN Kudus khususnya Prodi PMI adalah tidak asing bagi kami, karena kerjasama antara IAIN Kudus dengan Pemerintah Desa Ponggok telah terjalin sejak 2018 dengan dikirimkannya mahasiswa KKN ke Desa kami. Jadi kami sangat bangga jika dalam kesempatan ini mahasiswa PMI bersedia berkunjung kembali dalam kegiatan KKL. Selain itu, jangan malu sebagai orang Desa. Karena dari Desalah pembangunan suatu bangsa dapat dilaksanakan. Apalagi ketika kita melihat Desa itu banyak sekali asset yang dimiliki dalam membangun peradaban dan kesejahteraan masyarakat, contohnya apa yang sudah kami laksanakan dengan merubah Desa Ponggok yang dahulunya menjadi Desa Termiskin ke tida se Kabupaten Klaten sekarang ini menjadi Desa terkaya se Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa Desa dapat menjadi embrio dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat, ungkap Jhunaedi Mulyono.   

Sedangkan Hendrik Vidyanto SE Direktur BUMDes selaku Narasumber pertama pada acara tersebut menyampaikan terkait dengan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai oleh pemerintah Desa Ponggok dalam mensejahterakan masyarakat Desa, antara lain: (1) Program satu rumah satu sarjana, dimana program ini merupakan program pemberian beasiswa kepada masyarakat Desa Ponggok yang melanjutkan pendidikan jenjang perguruan tinggi dengan memberikan beasiswa kepada setiap mahasiswa dari Ponggok sebesar Rp. 500.000 setiap bulan. Dari program ini diharapkan, mahasiswa yang telah lulus nantinya dapat mengkontribusikan ilmu dan pengalamannya dalam membangun Desa Ponggok. (2) Program penjaminan kesehatan bagi masyarakat Desa Ponggo, jadi setiap masyarakat Desa Ponggok yang tidak mendapatkan BPJS baik dari pemerintah maupun dari tempat kerja akan diberikan BPJS dengan premi bulanannya dibayar oleh Pemerintah Desa Ponggok. Jadi secara kesehatan pemerintah Desa Ponggok telah menjamin kesehatan masyarakatnya. (3) pemberian santunan kepada lansia dan keluarga miskin dalam bentuk kebutuhan pokok dan uang tunani sebesar 500.000 setiap bulannya. Selain itu, Hendrik Vidyanto SE juga mengungkapkan bahwa sekarang ini pendapatan Asli Desa (APBDes) Desa Ponggok telah mencapai 14 Milyar pertahun yang dulunya hanya 120 juta pertahun, semua itu kami peruntukan demi kesejahteraan masyarakat Desa Ponggok.

Semetara itu, Jhunaedi Mulyono, SE selaku Narasumber kedua, menyampaikan bahwa pembangunan Desa itu dapat dilaksanakan dengan melakukan pemberdayaan asset yang dimiliki oleh Desa. karena kalau berbicara tentang Desa ini terdapat beberapa asset yang dapat dikembangkan, misalnya di Desa Ponggok terdapat setidaknya tiga asset yang dapat diberdayakan, yaitu (1) aset sumber daya alam (SDA), kita semua tahu bahwa Ponggok ini memilki aset alam yang melimpah dalam bentuk air. Dahulu air ini hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, MCK dan terbuang percuma. Namun sekarang ini air kami kelola dengan baik dengan menjadikannya sebagai Wisata Air (Umbul), selain itu air juga kami kelola dengan membuat kolam ikan Nila disetiap aliran air sekitar rumah warga. (2) Aset Sumberdaya Manusia (SDM), dengan adanya SDM yang unggul juga ikut mensukseskan setiap program yang dicanangkan oleh pemerintah Desa Ponggok. Oleh karenanya kami melaksanakan program satu rumah satu sarjana, yang harapannya mahasiswa yang telah menjadi sarjana dapat berkontribusi dalam membangun Desa Ponggok. Selain itu, anak muda di desa kami yang belum memiliki pekerjaan kami karyakan dengan bergabung mengelola wisata dan BUMDes yang kami beri gaji melebihi UMR Kabupaten Klaten. Sedangkan untuk karyawan BUMDes dan perangkat Desa kami senaniasa melakukan pengembangan dengan memberikan beberapa pelatihan yang mendukung kerja mereka. (3) Aset Sosial, aset ini dalam bentuk kearifan lokal masyarakat Desa misalnya Gotong Royong antar masyarakat. Dengan gotong royong antara masyarakat berbagai program yang telah dicanangkan oleh pemerintah desa dapat didukung dan dilaksanakan oleh setiap masyarat Desa Ponggok. Dengan berbagai aset itulah keberhasilan Desa Ponggok dapat kami wujudkan, ungkap Jhunaedi Mulyono.

Selain itu, kepala Desa Ponggok juga menyampaikan bahwa untuk mencapai sebuah keberhasilan dalam membangun desa adalah dengan melaksanakan proses manajerial. Upaya manajerial yang dilakukan oleh Desa Ponggok adalah dengan : (1) Penggalian aset, dengan kita mengetahui aset apa yang dimiliki maka kita akan dapat melakukan pemberdayaan terhadap aset tersebut. (2) Perencanaan, dengan melakukan perencanaan yang matang kita akan mengetahui apa yang harus kita lakukan terhadap aset yang telah kita temukan, (3) Aksi, perencanaan yang telah kita buat kita laksanakan dalam bentuk aksi atau kegiatan yang terukur, (4) evaluasi, dari aksi yang kita lakukan kita harus senantiasa dapat mengukur sejauhmana tingkat keberhasilannya melalui kegiatan evaluasi, (5) Follow Up (tindak lanjut), dengan mengetahui program mana yang efektif selanjutnya dapat melakukan tindak lanjut program tersebut. Itulah yang kami lakukan, sehingga Desa Ponggok yang terkenal sebagai Desa Wisata sekarang ini telah berstatus sebagai Desa Cerdas (Smart Village) dan ke depan akan dicanangkan Ponggok sebagai Desa Tekhnokrat, ungkap Jhunaedi Mulyono.

Share this Post:

Galeri Photo